Tampilkan postingan dengan label Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stories. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 September 2010

The Kite Runner

Novel itu sudah lama ada di rak buku adikku. Ya, aku tahu persis itu. Selama ini selalu terabaikan olehku saat mencari-cari bahan bacaan. Yang teringat hanyalah predikat #1 New York Time Bestseller di sampul depannya. Sampai akhirnya tiba juga gilirannya saat aku harus bepergian dan harus ditemani bacaan bagus selama perjalanan.

Tak disangka ternyata itu pilihan yang tepat. Karya Khalled Hosseini berjudul The Kite Runner itu mengingatkanku pada masa kecilku yang juga seorang pengejar layang-layang. Walaupun kisahku tidak setragis tokoh yang ada dalam cerita tersebut tetapi cukup banyak suka duka yang masih tersimpan dalam ingatan.

Sebagai anak kecil yang uang sakunya sangat minim bahkan tidak ada sama sekali seperti aku dulu, menjadi pengejar layang-layang menjadi pilihan terbaik untuk bisa memiliki sebuah layangan. Tidak perlu keluar uang tapi memang butuh ketangkasan dan sedikit keberuntungan. Kadang kita bisa memperolehnya dalam keadaan utuh tetapi tidak jarang juga dalam keadaan hancur lebur akibat aksi rebutan.

Sabtu, 25 September 2010

NonSwimming Boy


Dia mungkin satu-satunya anak laki-laki yang tidak bisa berenang di wilayah itu. Bahkan mencelupkan kepalanya ke dalam air pun seperti sedang menghadapi tugas yang sangat berat. Jika akhirnya melakukannya, ia akan segera muncul sambil megap-megap dan mengusap-usap wajahnya dengan panik seolah-olah ingin menghapus cairan menjijikkan yang membasahi wajahnya. Berbeda dengan anak-anak lain yang bisa menahan napas lama sambil melakukan gerakan akrobatik di dalam air.

Mengherankan memang, mengingat sejak duduk di bangku sekolah dasar hampir setiap minggu ada pelajaran berenang. Mungkin karena hampir semua anak sudah bisa berenang sejak sebelum masuk sekolah sehingga guru olahraga tidak mau repot-repot lagi mengajarkan bagaimana cara supaya bisa berenang. Dia hanya menargetkan setiap anak harus berenang sejauh 500 meter atau 1000 meter pada setiap pelajaran tersebut. Akan tetapi, bukannya guru tersebut tidak sadar bocah tersebut tidak bisa berenang, pernah ia dengan kejamnya mengangkat dan melemparkan bocah itu ke dalam air. Untung saja airnya dangkal sehingga bocah malang tersebut tidak tenggelam.

Jumat, 24 September 2010

Mysterious Friends

"Ini untuk Mbak Agusha, ini untuk Mbak Gege, dan yang ini untuk aku," seorang gadis kecil sedang membagikan mainan kepada teman-temannya walaupun mereka tidak hadir di sana. Bagi ayahnya, yang saat ini sedang serius membaca novel di sebelahnya, adalah hal yang biasa jika seorang anak berpura-pura sedang bermain dengan teman-temannya. Ini bukan pertama kali dilakukannya.

Akan tetapi saat itu ayahnya menyadari bahwa ia belum pernah mengenal nama teman-teman anaknya itu. Saat itu, gadis kecil itu memang baru pindah ke sekolah yang baru. Walaupun tidak hafal semua nama teman-temannya, ayahnya yakin tidak ada anak yang bernama Agusha atau Gege.

"De, Agusha dan Gege itu siapa?" ayahnya bertanya sambil lalu tanpa melepaskan matanya dari novelnya.

Anaknya juga mengabaikannya. Pertanyaan tersebut diulang sampai tiga kali oleh ayahnya tetapi ia juga tidak mau menjawab. Saat ayahnya mengalihkan pandangan ke arahnya ia malah memeluk kaki ayahnya dan menyembunyikan wajah dibaliknya. Ia memang terkadang malu jika diperhatikan sedang bermain atau bernyanyi sendirian. Ayahnya tidak memaksa untuk menemukan jawabannya.

Suatu hari jawaban tersebut keluar juga. Saat itu ia dan tantenya sedang duduk-duduk di teras depan rumah. Ketika diberikan pertanyaan yang sama ia menjawab bahwa keduanya sedang duduk di kursi sebelah tantenya tersebut. Tentu saja hal ini membuat tantenya terkejut dan ketakutan. Ia menambahkan bahwa keduanya telah meninggal secara tragis. Mbak Agusha meninggal karena ditabrak mobil sedangkan Mbak Gege meninggal karena tertembak.

Entah kejadian tersebut benar atau tidak hanya gadis kecil tersebut yang tahu. Akan tetapi sejak saat itu teman-teman misterius tersebut sudah akrab di telinga keluarga.

Lihat juga:
Dad ... Tell Me a Story
NonSwimming Boy
The Kite Runner

Kamis, 23 September 2010

Dad ......... tell me a story


Malam sudah larut, seorang anak perempuan masih asik mencoretkan spidolnya di atas selembar kertas. Sang Ayah mengawasi jangan sampai gadis kecil itu membuat grafiti di tembok rumah. Dia sudah lelah atau bosan sebenarnya, terutama karena dengan terpaksa ikut menyaksikan adegan marah-marah di sinetron yang sedang ditonton istrinya. Menurutnya di rumah seharusnya peaceful. Nonton begituan malah bikin stress.

Tiba-tiba anaknya menguap. Inilah kesempatan yang ditunggu-tunggu Ayah. "Tuh sudah ngantuk. Tidur yuk, besok kan harus bangun pagi terus ke sekolah."

"Gendong." Dengan nada manja and tangan direntangkan ke atas minta diangkat.